Sabtu, 28 Mei 2011

Istana maimun

Nama : Lamro S Sitohang Nim : 7103142041 Istana Maimun Istana Maimun, terkadang disebut juga Istana Putri Hijau, merupakan istana kebesaran Kerajaan Deli. Istana ini didominasi warna kuning, warna kebesaran kerajaan Melayu. Pembangunan istana selesai pada 25 Agustus 1888 M, di masa kekuasaan Sultan Makmun al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Sultan Makmun adalah putra sulung Sultan Mahmud Perkasa Alam, pendiri kota Medan. Sejak tahun 1946, Istana ini dihuni oleh para ahli waris Kesultanan Deli. Dalam waktu-waktu tertentu, di istana ini sering diadakan pertunjukan musik tradisional Melayu. Biasanya, pertunjukan-pertunjukan tersebut dihelat dalam rangka memeriahkan pesta perkawinan dan kegiatan sukacita lainnya. Selain itu, dua kali dalam setahun, Sultan Deli biasanya mengadakan acara silaturahmi antar keluarga besar istana. Pada setiap malam Jumat, para keluarga sultan mengadakan acara rawatib adat (semacam wiridan keluarga). Bagi para pengunjung yang datang ke istana, mereka masih bisa melihat-lihat koleksi yang dipajang di ruang pertemuan, seperti foto-foto keluarga sultan, perabot rumah tangga Belanda kuno, dan berbagai jenis senjata. Di sini, juga terdapat meriam buntung yang memiliki legenda tersendiri. Orang Medan menyebut meriam ini dengan sebutan meriam puntung. Kisah meriam puntung ini punya kaitan dengan Putri Hijau. Dikisahkan, di Kerajaan Timur Raya, hiduplah seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Hijau. Ia disebut demikian, karena tubuhnya memancarkan warna hijau. Ia memiliki dua orang saudara laki-laki, yaitu Mambang Yasid dan Mambang Khayali. Suatu ketika, datanglah Raja Aceh meminang Putri Hijau, namun, pinangan ini ditolak oleh kedua saudaranya. Raja Aceh menjadi marah, lalu menyerang Kerajaan Timur Raya. Raja Aceh berhasil mengalahkan Mambang Yasid. Saat tentara Aceh hendak masuk istana menculik Putri Hijau, mendadak terjadi keajaiban, Mambang Khayali tiba-tiba berubah menjadi meriam dan menembak membabi-buta tanpa henti. Karena terus-menerus menembakkan peluru ke arah pasukan Aceh, maka meriam ini terpecah dua. Bagian depannya ditemukan di daerah Surbakti, di dataran tinggi Karo, dekat Kabanjahe. Sementara bagian belakang terlempar ke Labuhan Deli, kemudian dipindahkan ke halaman Istana Maimun. Setiap hari, Istana ini terbuka untuk umum, kecuali bila ada penyelenggaraan upacara khusus. 1. Lokasi Istana ini terletak di jalan Brigadir Jenderal Katamso, kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun, Medan, Sumatera Utara. 2. Luas Luas istana lebih kurang 2.772 m, dengan halaman yang luasnya mencapai 4 hektar. Panjang dari depan kebelakang mencapai 75,50 m. dan tinggi bangunan mencapai 14,14 m. Bangunan istana bertingkat dua, ditopang oleh tiang kayu dan batu Setiap sore, biasanya banyak anak-anak yang bermain di halaman istana yang luas. 3. Arsitektur Arsitektur bangunan merupakan perpaduan antara ciri arsitektur Moghul, Timur Tengah, Spanyol, India, Belanda dan Melayu. Pengaruh arsitektur Belanda tampak pada bentuk pintu dan jendela yang lebar dan tinggi. Tapi, terdapat beberapa pintu yang menunjukkan pengaruh Spanyol. Pengaruh Islam tampak pada keberadaaan lengkungan (arcade) pada atap. Tinggi lengkungan tersebut berkisar antara 5 sampai 8 meter. Bentuk lengkungan ini amat populer di kawasan Timur Tengah, India dan Turki. Bangunan istana terdiri dari tiga ruang utama, yaitu: bangunan induk, sayap kanan dan sayap kiri. Bangunan induk disebut juga Balairung dengan luas 412 m2, dimana singgasana kerajaan berada. Singgasana kerajaan digunakan dalam acara-acara tertentu, seperti penobatan raja, ataupun ketika menerima sembah sujud keluarga istana pada hari-hari besar Islam.Di bangunan ini juga terdapat sebuah lampu kristal besar bergaya Eropa. Di dalam istana terdapat 30 ruangan, dengan desain interior yang unik, perpaduan seni dari berbagai negeri. Dari luar, istana yang menghadap ke timur ini tampak seperti istana raja-raja Moghul. 4. Akses Menuju Lokasi Akses menuju lokasi ini sangat mudah, karena Istana Maimun ini berada tepat ditengah kota Medan. 5. Akomodasi dan Fasilitas lainnya Oleh karena lokasinya di tengah Kota Medan, tidak sulit mencari penginapan kelas melati atau pun hotel berbintang. Restoran dan kedai makanan juga mudah ditemukan di sekitar lokasi. Apabila pengunjung membutuhkan penjelasan sejarah, di dalam Istana Maimoon disediakan guide (biayanya masih dalam konfirmasi). Pengunjung dapat berfoto tanpa ada larangan, namun ada tempat-tempat tertentu di dalam istana yang tidak boleh diduduki. Selain itu ada tempat penyewaan baju Melayu (untuk berfoto) 6. Perencana Ada beberapa pendapat mengenai siapa sesungguhnya perancang istana ini. Beberapa sumber menyebutkan perancangnya seorang arsitek berkebangsaan Italia, namun tidak diketahui namanya secara pasti. Sumber lain, yaitu pemandu wisata yang bertugas di istana ini, mengungkapkan bahwa arsiteknya adalah seorang Kapitan Belanda bernama T. H. Van Erp. 7. Renovasi Istana ini terkesan kurang terawat, boleh jadi, hal ini disebabkan minimnya biaya yang dimiliki oleh keluarga sultan. Selama ini, biaya perawatan amat tergantung pada sumbangan pengunjung yang datang. Agar tampak lebih indah, sudah seharusnya dilakukan renovasi, tentu saja dengan bantuan segala pihak yang concern dengan nasib cagar budaya bangsa. Sultan Mahmud Perkasa Alam (1828-1873) merupakan Raja Deli VIII, yang pada waktu itu masih berkedudukan di Labuhan Deli, mulai melakukan pembangunan di sektor perkebunan. Banyak orang yang didatangkan dari berbagai penjuru Nusantara untuk dipekerjakan atau mencari pekerjaan di perkebunan-perkebunan tembakau di Negeri Deli. Hasil perkebunan Tembakau Deli banyak yang diekspor ke Eropa. Di kota pelelangan tembakau dunia, yaitu di Kota Bremen, Jerman, Tembakau Deli (daun emas) diakui sebagai tembakau terbaik di dunia, bahkan hingga sekarang. Periode 1873 - 1900 merupakan puncak keemasan dari penanaman tembakau Deli yang memperoleh keuntungan dan kemakmuran ekonomi, karena Tembakau Deli sangat laku di pasaran dunia. Pada periode ini Raja Deli saat itu adalah Sultan Ma'moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah yang menggantikan ayahanda baginda Sultan Mahmud Perkasa Alam. Dari kemakmuran ekonomi inilah, akhirnya Sultan Ma'moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah mendirikan Istana Kampong Bahari (Labuhan) tahun 1886. Dua tahun kemudian tepatnya 8 Zulhijjah 1306 H (26-8-1888) oleh Raja Deli diletakkan batu pertama Istana Maimun yang berada di Medan dan 18 Mei 1891 mulai ditempati oleh Raja Deli sehingga berpindahlah kerajaan Deli dari Istana Kampong bahari (Labuhan) ke Istana Maimun (Medan). Istana Maimun didesain meniru berbagai gaya yaitu gaya tradisional istana-istana Melayu, Pola India Islam dan gaya Eropa. Arsitek Istana Maimun merupakan tentara KNIL bernama Kapten TH. Van Erp dari Zeni Angkatan Darat KNIL. Keberadaan Istana Maimoon sebagai pusat pemerintahan di Medan, menjadikan Medan sebagai kota pemerintahan yang metrpolitan. Banyak orang dari berbagai suku bangsa, seperti etnis Batak, Jawa, Aceh, Minang, Cina dan India, berdatangan ke Medan (Ibu Kota Deli). B. Keistimewahan Salah satu ciri khas bangunan Istana Maimoon ini ialah berarsitektur Melayu, dan bercorak Eropa. Ia menjadi simbol kemajuan dan kemakmuran ekonomi, dan pluralisme budaya pada masa pemerintahan Kesultanan Deli. Istana Maimoon bukanlah satu-satunya istana di lingkungan Kesultanan Deli, namun keberadaan istana-istana yang lain sudah tidak terlihat lagi. Dilihat dari sudut arsitektur secara keseluruhan bentuk atap adalah bertingkat dua, melalui koridor dari batu pualam kita dapat naik ke tingkat dua bangunan induk yang berteras di kiri dan kanannya yang disebut anjungan. Masuk melalui pintu gerbang utama kita langsung menemukan ruangan tamu dimana dahulu Sultan menerima tamu-tamu resminya. Kemudian kita berjalan melewati gerbang dengan lengkungan yang berbentuk lunas perahu terbalik yang penuh dengan ukiran-ukiran motif floralastis dan geometris kita memasuki ruangan induk pada bangunan seluas ア 412 M2 yang dahulu berfungsi sebagai balairung yaitu tempat upacara penobatan raja dan upacara adat lainnya. Disisi kirinya terdapat singgasana sultan yang bentuknya segi empat lengkap dengan kubahnya. Selain itu kita juga dapat melihat lukisan dan foto - foto Sultan Deli terdahulu antara lain Sultan Mahmud perkasa Alamsyah, Sultan Ma'mun Alrasyid Perkasa Alamsyah (pendiri Istana Maimun) dan lainnya . Dari sisi kanan, didepan istana berdiri sebuah bangunan Batak Karo, dimana didalamnya ditempatkan sebuah meriam yang sudah puntung (putus). Oleh masyarakat benda ini populer dengan nama Mariam Puntung dan selalu dihubungkan dengan legenda Putri Hijau. Pada saat ini Istana Maimoon dibuka untuk umum. Di dalam istana terdapat singgasana sultan dan permaisurinya. Pengunjung dapat duduk dan berfoto di sana. Ruangan bagian tengah sebelah kanan, terdapat tempat duduk yang lebar berwarna kuning, yang pada masa lalu merupakan tempat di mana sultan dan permaisuri duduk bersantai. Banyak foto keluarga kesultanan dipajang di dinding dan di atas buffet. Pada saat ini Istana Maimoon dibuka untuk umum. Di dalam istana terdapat singgasana sultan dan permaisurinya. Pengunjung dapat duduk dan berfoto di sana. Ruangan bagian tengah sebelah kanan, terdapat tempat duduk yang lebar berwarna kuning, yang pada masa lalu merupakan tempat di mana sultan dan permaisuri duduk bersantai. Banyak foto keluarga kesultanan dipajang di dinding dan di atas buffet.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar