Kamis, 12 April 2012

 Akuntansi keuangan II
 
Tanaman belum menghasilkan, digolongkan kedalm Harta peruasahaan atau tidak???

1. Pendahuluan

Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya memerlukan faktor-faktor produksi yang dapat digunakan untuk menghasilkan output berupa barang maupun jasa. Salah satu faktor produksi tersebut adalah aktiva tetap, dimana nilainya cukup material dalam rangka menunjang kelancaran kegiatan perusahaan untuk pencapaian tujuan. Untuk mencapai tujuan ini manajemen sebagai pihak... yang diberi hak dan tanggung jawab harus menguasai faktor-faktor produksi yang diramu seperti manusia, material dan metode. Proses ini dimaksudkan untuk menghasilkan penerimaan kas melalui penjualan produksi tersebut yang menjadi salah satu sumber dana utama bagi pelaksanaan kegiatan perusahaan.

Mengingat pentingnya peranan aktiva tetap tanaman menghasilkan dalam mencapai tujuan perusahaan, maka sangat diperlukan Penerapan PSAK No.16 terhadap aktiva tetap tanaman menghasilkan yang meliputi harga perolehan, metode penyusutan aktiva tetap terhadap tanaman menghasilkan dan penyajiannya dalam laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. Beberapa penerapan akuntansi yang menawarkan beberapa alternatif yang dapat dipilih salah satunya, misalnya metode penyusutan aktiva tetap. Penerapan metode penyusutan garis lurus atau metode unit produksi pada tanaman menghasilkan akan memberikan pengaruh yang berbeda bagi perusahaan karena mempengarui nilai bersih aktiva tetap disatu sisi dan mempengaruhi laba perusahaan disisi lain. Hal ini perlu menjadi perhatian manajemen dalam menetapkan metode yang dipilih sehingga tidak menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan dimasa yang akan datang. Berdasarkan uraian-uraian diatas penulis tertarik untuk membahas masalah tersebut dalam bentuk skripsi dengan judul “Penerapan PSAK No. 16 terhadap Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan Budidaya Coklat pada PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Tanjung Morawa Kebun Maryke”

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Aktiva Tetap

Menurut Surat Edaran Badan Pengawas Pasar Modal (2002 : 21)

Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai baik melalui pembelian maupun dibangun lebih dahulu yang digunakan dalam kegiatan usaha perusahaan serta tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

Menurut Mulyadi (2002:110) : “ Aktiva tetap adalah kekayaan perusahaan yang memiliki wujud, mempunyai manfaat ekonomis lebih dari satu tahun dan diperoleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan untuk dijual”.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2007) adalah : “Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau dengan tujuan administratif, dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode”.

2.2 Penggolongan Aktiva Tetap

Penggolongan aktiva tetap berdasarkan umur, disusutkan atau tidak disusutkan dapat digolongkan sebagai berikut:

1) Berdasarkan umur aktiva tetap dibedakan atas aktiva tetap yang umurnya tidak terbatas dan aktiva tetap yang umurnya terbatas, yaitu sebagai berikut:

a) Aktiva tetap yang umurnya tidak terbatas

Aktiva tetap ini tidak perlu dilakukan penyusutan terhadap harga perolehan, karena pada dasarnya nilai dari aktiva ini tidak akan menurun sekalipun umurnya bertambah, misalnya : tanah.

b) Aktiva tetap yang umurnya terbatas

Aktiva tetap yang umurnya terbatas dan apabila sudah habis masa manfaatnya bisa diganti dengan aktiva yang sejenis. Misalnya : tanaman coklat, apabila sudah habis masa manfaatnya maka bisa diganti lagi dengan tanaman coklat. Untuk aktiva ini dilakukan penyusutan terhadap harga perolehannya.

2) Berdasarkan perlakuan aktiva tetap dibedakan berdasarkan disusutkan atas

tidak disusutkan.

a) Aktiva tetap yang disusutkan, setiap periodenya karena diasumsikan aktiva tersebut akan mengalami penurunan kemampuan untuk memberikan jasanya. Misalnya : kendaraan, mesin, peralatan

b) Aktiva tetap yang tidak disusutkan, setiap periodenya karena diasumsikan aktiva tersebut tidak mengalami penurunan kemampuan dalam memberikan jasanya. Misalnya : Tanah.

3) Berdasarkan jenisnya aktiva tetap dibedakan atas tanah, bangunan,

peralatan, mesin-mesin, perkakas, perabot dan kendraan.

a) Tanah adalah lahan tempat perusahaan untuk melakukan kegiatan usaha, misalnya sebagai tempat bangunan, parkir, dan lain-lain. Tanah memiliki umur tidak terbatas, tanah tidak mengalami proses keausan, kerusakan sehingga tidak perlu dilakukan penyusutan. Berbeda dengan hak atas tanah, dimana hak atas tanah harus disusutkan karena hak atas tanah ini memiliki masa pakai. Diatas tanah terdapat kekayaan alam seperti minyak bumi, maka pencatatannya juga harus dibuat terpisah

b) Bangunan, adalah harta yang dimiliki perusahaan yang biasanya digunakan sebagai kantor, pabrik, toko dan lain-lain

c) Peralatan, adalah harta perusahaan yang meliputi alat-alat perlengkapan yang digunakan dalam operasi perusahaan yang meliputi alat-alat perlengkapan seperti peralatan kantor, pabrik, peralatan laboratorium dan lain-lain

d) Mesin-mesin, adalah aktiva tetap perusahaan berupa alat-alat yang digunakan untuk menjalankan operasi perusahaan berupa proses produksi maupun yang digunakan untuk kelancaran usaha sehari-hari seperti: mesin pabrik, pembangkit tenaga listrik dan lain-lain

e) Perkakas, adalah aktiva tetap perusahaan berupa alat-alat kecil yang digunakan untuk kegiatan produksi yang ada pada umumnya mempunyai nilai relatif kecil dan umur pendek, misalnya : martil, obeng, alat pelubang dan lain-lain

f) Perabot, adalah aktiva tetap perusahaan yang biasanya terdapat dibagian kantor : meliputi : meja, kursi, dan lain-lain

g) Kendaraan, yaitu alat transportasi yang dipergunakan perusahaan untuk membantu kegiatan usahanya yaitu : truk , pick up, bus, gerobak dan lain-lain.

2.3 Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan

Menurut Surat Edaran Ketua Badan Pengawas Pasar Modal ( No. SE-02/ PM/2002:3) menyatakan bahwa “Tanaman Menghasilkan adalah tanaman keras yang dapat dipanen lebih dari satu kali yang telah menghasilkan secara komersial”.

Menurut Surat Edaran Ketua Badan Pengawas Pasar Modal ( No. SE-02/ PM/2002:20) menyatakan bahwa tanaman perkebunan terdiri dari tanaman menghasilkan dan tanaman belum menghasilkan.

a. Tanaman Menghasilkan, tanaman ini termasuk kedalam tanaman keras dan dapat dipanen lebih dari satu kali yang telah menghasilkan secara komersial dan dicatat sebesar biaya perolehannya yaitu semua biaya-biaya yang dikeluarkan sampai tanaman tersebut dapat menghasilkan. Tanaman telah menghasilkan disajikan sebesar biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi deplasi. Tanaman kakao mulai menghasilkan + 48 bulan sesudah ditanam di lapangan. Tanaman ini dapat hidup secara ekonomis antara 25 – 30 tahun.

b. Tanaman Belum Menghasilkan, tanaman ini dapat dipanen lebih dari satu kali dimana tanaman ini dicatat sebesar biaya-biaya yang terjadi sejak saat penanaman sampai saat tanaman tersebut siap untuk menghasilkan secara komersial. Biaya tersebut antara lain terdiri dari biaya persiapan lahan, penanaman, pemupukan dan pemeliharaan. Pada saat tanaman siap untuk menghasilkan maka direklasifikasikan menjadi tanaman telah menghasilkan. Tanaman kakao belum menghasilkan berumur dari 0 s/d 4 bulan sesudah ditanam dilapangan

2.4 Cara dan Penentuan Harga Perolehan Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan.

Standar Akuntansi Keuangan (2004:16.5) yang menyatakan bahwa :Biaya perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari harga belinya, termasuk Bea Impor dan PPN masukkan tak boleh restitusi (non refundable),dan setiap biaya yang dapat di distribusikan secara langsung dalam membawa aktiva tersebut ke kondisi yang membuat aktiva tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan, setiap potongan dagang dan rabat dikurangkan dari harga pembelian

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2004:16.5) “ Biaya perolehan suatu aktiva yang dikonstruksi sendiri ditentukan menggunakan prinsip yang sama seperti suatu aktiva yang diperoleh. Yaitu harga perolehan aktiva tetap yang dibangun sendiri meliputi seluruh biaya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aktiva tersebut hingga siap digunakan.”

2.5 Metode Penyusutan Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan

1) Berdasarkan waktu

a) Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Dengan menggunakan metode garis lurus, maka besarnya beban penyusutan tiap tahun adalah tetap, sehingga secara periodik beban ini dikelompokkan sebagai biaya tetap yang tidak dapat dipengaruhi selama masa manfaat.

Beban penyusutannya menurut metode ini dihitung sebagai berikut:

D = Beban penyusutan

C = Harga pokok aktiva

S = Nilai residu

n = Umur ekonomis

b.) Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of The Year Digit Method)

Dalam metode ini, beban penyusutan pada mulanya tinggi dan seterusnya akan menurun. Beban penyusutan dihitung dengan cara menjumlah semua angka (digit) umur aktiva tersebut. Misalnya aktiva yang mempunyai masa manfaat 4 (Empat) tahun dihitung sebagai berikut :

Total digit : 4 + 3 + 2 + 1 = 10 atau dengan rumus :
Maka D =

c) Metode Saldo Menurun / Saldo Menurun Ganda (Declining/ Double Balance Method)

( a) Metode Saldo Menurun, dalam metode ini beban penyusutan dihitung dengan persentase tertentu yang dikalikan dengan nilai bukunya. Beban penyusutan makin lama makin mengecil. Persentasenya dapat dihitung dengan rumus :

Dimana :

r = Tarif Penyusutan

n = Estimasi umur dalam tahun

S = Nilai sisa

C = Harga Perolehan Aktiva

(b) Metode Saldo Menurun Ganda (Double Declining Balance Method),

dalam metode ini penyusutan juga dihitung dengan persentase yang tetap. Persentase dihitung dengan cara menggandakan persentase penyusutan menurut straight line method.

2.6 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masala tertentu. Kerangka konseptual menggambarkan jaringan hubungan antar variable secara logis diterangkan, dikembangkan dan dielaborasi dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi. Adapun Kerangka Konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Kerangka Konseptual

PSAK No.16 merupakan PSAK yang secara khusus membahas tentang Standar Akuntansi Keuangan aset tetap. PTPN II (Persero) Kebun Maryke sebagai objek dalam penelitian ini. Penelitian ini membahas tentang penerapan PSAK No.16 terhadap aktiva tetap tanaman menghasilkan budidaya coklat pada PTPN II (Persero) Kebun Maryke. Selanjutnya pembahasan dibatasi mengenai hal-hal berikut ini :

1. harga perolehan tanaman menghasilkan,

2. penyusutan tanaman menghasilkan,

3. penyajiannya di neraca.

Penerapan PSAK No. 16 terhadap akuntansi aktiva tetap tanaman menghasilkan dibandingkan dengan penerapan akuntansi berdasarkan PTPN II (Persero) Kebun Maryke untuk menjawab perumusan masalah yang merupakan tujuan penelitian. Hasil analisa ini kemudian dirangkum dalam kesimpulan, selanjutnya peneliti memberi saran bagi pihak terkait sehubungan dengan hasil analisa dan kesimpulan.

3. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah berbentuk deskriptif, dimana penulis mengumpulkan data-data yang berasal dari perusahaan yaitu struktur organisasi perusahaan, neraca dan daftar aktiva tetap perusahaan untuk selanjutnya menguraikannya secara keseluruhan. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Tanjung Morawa Kebun Maryke yang nantinya akan diteliti yaitu daftar aktiva tetap perusahaan, Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari sumber yang terdokumentasi di perusahaan, antara lain data mengenai sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi dan laporan keuangan, sedangkan teknik pengumpulan data adalah Teknik wawancara, yaitu dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan pihak perusahaan khususnya bagian akuntansi yang sesuai dengan masalah yang diteliti dan Dokumentasi, yaitu dengan melakukan pengamatan melalui dokumen yang berkaitan dengan akuntansi aktiva tetap pada perusahaan yang diteliti, metode penelitian menggunakan Metode Deskriptif, yaitu dengan cara mengumpulkan, menyusun dan mengklasifikasikan data yang diperoleh kemudian diinterprestasikan dan dianalisis sehingga memberikan informasi yang lengkap.

4. Hasil Penelitian

Berdasarkan metode penelitian dan teknik pengumulan data tentang akuntansi tanaman menghasilkan budidaya coklat dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Pencatatan harga perolehan tanaman menghasilkan adalah berdasarkan seluruh pengeluaran yang dilakukan perusahaan mulai pengadaan kebun pembibitan, dan biaya lainnya hingga tanaman menjadi tanaman menghasilkan. Adapun biaya tanaman yang menjadi dasar pencatatan perolehan aktiva tetap tanaman menghasilkan meliputi biaya gaji dan sosial pegawai, ganti rugi atas tanah, persiapan dan pembukaan tanah, jalan dan saluran air, upah menanam, bibit, pemberantasan lalang, pemberantasan hama dan penyakit, bahan kimia untuk pemberantasan hama dan penyakit, upah memupuk dan pupuk. Secara sederhana harga perolehan ini diperoleh dari akhir nilai buku tanaman belum menghasilkan.

2. Penyusutan aktiva tetap tanaman menghasilkan milik PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Tanjung Morawa Kebun Maryke adalah dengan menggunakan Metode Garis Lurus (straight line method) dimana besarnya beban penyusutan tiap tahun adalah tetap, sehingga secara periodik beban ini dikelompokkan sebagai biaya tetap yang tidak dapat dipengaruhi selama masa manfaat. Pemilihan metode penyusutan ini kurang tepat, karena kurang rasional.

3. Penilaian aktiva tetap tanaman menghasilkan di neraca didasarkan pada nilai buku aktiva tetap yaitu harga perolehan aktiva tetap tanaman menghasilkan dikurangi akumulasi penyusutannya. Hal ini sudah sesuai dengan Standard Akuntansi Keuangan.

4. Bila aktiva tetap tanaman menghasilkan sudah berakhir masa manfaatnya, maka akan dilakukan pelepasan atau penarikan terhadap aktiva tersebut. Pelepasan terhadap aktiva tetap dapat dilakukan dengan cara mendebit akumulasi penyusutan aktiva tetap tanaman menghasilkan dan mengkredit akun aktiva tetap tanaman menghasilkan.

5. Penyajian aktiva tetap tanaman menghasilkan pada neraca PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Tanjung Morawa Kebun Maryke disajikan berdasarkan nilai buku tanaman menghasilkan tersebut yaitu harga perolehan tanaman menghasilkan dikurangi dengan akumulasi penyusutannya

5. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, data disimpulkan bahwa Pada PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Tanjung Morawa Kebun Maryke mempunyai tanaman menghasilkan yaitu coklat, dimana tanaman menghasilkan tersebut digolongkan kedalam aktiva tetap. Tanaman menghasilkan pada PTPN II (Persero) Kebun Maryke telah sesuai dengan PSAK No.16 dan BAPPEPAM No. SE-02/PM/2002. Tanaman menghasilkan tersebut diperoleh dengan cara membangun sendiri.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil analisa yang penulis lakukan serta kesimpulan yang dibuat atas kebijaksanaan akuntansi aktiva tetap tanaman menghasilkan yang diterapkan perusahaan, penulis akan memberi saran yang kiranya dapat bermanfaat sebagai berikut:

1. Hendaknya perusahaan memiliki bagian khusus yang menangani masalah aktiva tetap, yang tujuannya untuk menghindari adanya penyelewengan-penyelewengan terhadap penggunaan, pengelolahan dan penyimpanan terhadap aktiva tetap tersebut.

2. Aktiva tetap tanaman menghasilkan yang telah berakhir masa manfaatnya seharusnya dilakukan penilaian kembali.

3. Diadakannya perlindungan atas aktiva tetap tanaman menghasilkan dalam bentuk asuransi.

4. Sebaiknya perusahaan menggunakan metode penyusutan untuk tanaman menghasilkannya yaitu dengan metode unit produksi, karena dengan menggunakan metode ini beban penyusutan setiap tahun akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan jumlah produksi yang diperoleh pada tahun-tahun yang bersangkutan. Sedangkan metode garis lurus beban penyusutannya tetap dari tahun ke tahun, tidak sesuai dengan perubahan jumlah produksi yang diperoleh dari tahun-tahun bersangkutan.

REFERENCES

Brigham, F.Eugene, J.F. Houston, 1996, Manajemen Keuangan, Edisi Kedelapan, Buku kedua, Terjemahan Dodo Suharto, Herman Wibowo : Editor, Yati Sumiharti, Wisnu Chandra Krishaji, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Bahri, Syamsul 2007. Mencari Metode Penyusutan Aktiva Tetap yang Sesuai bagi Industri Kelapa Sawit, Jurnal Lembaga Pendidikan Perkebunan, Medan.
Erlina, Sri Mulyani, 2007. Metode Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, Cetakan Pertama, USU Press, Medan
Harahap, Sofyan Syafri, 2001. Teori Akuntansi, Edisi Revisi,Cetakan Pertama PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Hasibuan, Akmaludin, 2007. Karakteristik Agribisnis Perkebunan dan Praktek Perlakuan Akuntansi dan Penyajian Informasi Keuangan, Jurnal Lembaga Pendidikan Perkebunan. Medan
Ikatan Akuntan Indonesia, 2007. Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta
Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Edisi pertama. Cetakan pertama, Buku I, BPFE, Yogyakarta
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2004. Buku Petunjuk Teknik Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi, Fakultas Ekonomi , Universitas Sumatera Utara,, Medan
Kieso, Donald E, Jerry, J, Weygandt, Terry D. Warfield, 2002. Akuntansi Intermediate,,Edisi Kesepuluh, Cetakan Pertama, Buku I, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Kuncoro, Mudrajad, 2003. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Penerbit Erlangga, Jakarta
Martono, Agus Harjito, 2001. Manajermen Keuangan, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Penerbit Ekonisia, Yogyakarta
Mulyadi, 2001. Sistem Akuntansi, Edisi Ketiga, Cetakan Pertama, Buku I, Salemba Empat, Jakarta.
Niswonger, C. Rollin, Carl S. Warren, James M, Reeve dan Philip E. Fees, 1999, Accounting, Nineteenth edition, Edisi 19, Cetakan I, Jilid I, Alih Bahasa Alonus Sirait dan Hielda Gunawan, Prinsip-prinsip Akuntansi, Erlangga, Jakarta.
Setiawan, I. Guruh. 2007. Kebijakan Akuntansi Format dan Kandungan Informasi Keuangan Indusri Perkebunan, Jurnal Lembaga Pendidikan Perkebunan Medan.
Sundjaja, Ridwan, Inge barlian, 2002. Manajemen Keuangan, Edisi keempat, Cetakan Pertama, Buku 1, PT. Prenhallindo, Jakarta
Surat Edaran Ketua Badan Pengawas Pasar Modal No. SE-02 / PM / 2002.
Vademicum Kakao PTPN II, Instruksi No.041/Instr/3/1987.
Zubeirsyah, 2006. Bahasa Indonesia dan Teknik Penyusunan Karangan Ilmiah, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Universitas Sumatra Utara Press, Medan.

SUMBER : http://akuntansi.usu.ac.id/jurnal-akuntansi-39.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar