Sabtu, 28 Mei 2011

etika bisnis

Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial Ibarat sebuah mobil, laju mobil penting untuk dapat mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan. Mobil melaju karena injakkan pedal gas pengemudinya dan berhenti kerena injakan pedal rem. Injakan pedal gas mobil diperlukan agar mobil dapat melaju dan injakan pedal rem diperlukan agar mobil melaju dengan selamat. Begitu pula sebuah perusahaan bergerak karena beraksinya sumber daya manusia bersama-sama sumberdaya yang lain. Agar aksi manajemen perusahaan berjalan selamat perlu memperhatikan etika bisnis dan tanggung jawab sosial. Etika dan tanggung jawab sosial perupakan rem perusahaan agar berkerja tidak bertabrakan dengan pemegang kepentingan perusahaan, seperti pelanggan, pemerintah, pemilik, kreditur, pekerja dan komunitas atau masyarakat. Hubungan yang harmonis dengan pemegang kepentingan akan menghasilkan energi positif buat kemajuan perusahaan. Alasan dan kode etik bisnis 1. Meningkatkan kepercayaan publik pada bisnis. 2. Berkurangnya potensial regulasi pemerintah yang dikeluarkan sebagai aktivitas kontrol. 3. Menyediakan pegangan untuk dapat diterima sebagai pedoman. 4. Menyediakan tanggungjawab atas prilaku yang tak ber-etika. Pertimbangan tanggung jawab sosial 1. Pelanggan (Customers) 2. Pekerja (Employees) 3. Pemegang saham (Stockholders) 4. Kreditur (Creditors) 5. Masyarakat (Communities) Tanggung jawab social kepada pelanggan (Social responbility to customers) 1. Bagaimana Memastikan Tanggung jawab Bisnis : 1. Tetapkan kode etika. 2. Monitor keluhan pelanggan. 3. Memperoleh umpan balik pelanggan 2. Bagaimana memastikan tanggungjawab Pemerintah : 1. Peraturan Keamanan Produk. 2. Peraturan Periklanan. 3. Peraturan Persaingan Industri. Tanggung jawab social kepada pekerja (Social responbility to employees) 1. Keamanan Pekerja (Employee Safety) Memastikan Tempat kerja yang aman bagi pekerja. 2. Perlakuan pekerja Memastikan tidak ada diskriminasi. 3. Kesamaan kesempatan (Equal Opportunity) Kesamaan Kesempatan/Hak sipil 4. Bagaimana memastikan tanggung jawab Bisnis : 1.Keluhan Prosedur. 2.Kode etik. 3.UU Ketenaga kerjaan Tanggungjawab sosial kepada kreditur (social responsibility to creditors) 1. Kewajiban Keuangan. 2. Informasikan kreditur jika mempunyai permasalahan keuangan Tanggungjawab sosial kepada lingkungan (social responsibility to the environment) 1. Pencegahan polusi udara: 1.Peninjauan kembali proses produksi. 2.Petunjuk Penyelenggaraan pemerintah 2. Pencegahan polusi daratan: 1.Peninjauan kembali proses produksi dan pengemasan. 2.Menyimpan dan mengirim barang sisa beracun ke lokasi pembuangan Tanggungjawab sosial kepada masyarakat (social responsibility to community) 1. Sponsori peristiwa masyarakat lokal. 2. Sumbangkan kepada masyarakat tidak mampu. RESIKO Sekarang ini manajemen resiko dalam bisnis sudah menjadi concern utama. Resiko sendiri pada dasarnya ada 2 sifat, pertama resiko yang sulit dikendalikan dan resiko yang dapat dikendalikan. Resiko yang sulit dikendalikan oleh perusaaan adalah kebakaran, pengrusakan/kriminal. Oleh karena itu untuk melindungi kita bisa gunakan Asuransi. Sedangkan resiko yang dapat dikendalikan misalkan resiko ketika membeli suatu perusahaan, meluncurkan produk baru, dll. Di perusaaan yang sudah mapan, saat ini sudah banyak yang memiliki bagian khusus seperti Risk Manager yang berfungsi untuk identifikasi, assestmen, monitoring resiko dan membuat langkah dan kebijakan yang diperlukan. Namun memang profesi ini masih terbilang baru. mengenai manajemen resiko secara khusus perusahaan harus lah proaktif dalam memperlakukan resiko. Perusahaan juga harus dapat melakukan assestment terhadap resiko dan jenis-jenisnya sehingga nantinya mereka dapat meminimalisir effort dan biaya ketika terjadi losses (kerugian). Contoh : jenis resiko karena Masalah kualitas, maka dampak awal adalah menarik kembali barang bahkan kehilangan pelanggan. Dampak akhir adalah kerugian keuangan dan menurunnya omset/l Ada tahapan dalam pengendalian resiko, yaitu: 1. Kesadaran terhadap resiko; Intinya manajemen perusahaan harus menyadari bahwa dalam bisnis ada resiko. Resiko pun tidak hanya berdampak materi namun juga bisa bersifat strategis, misalkan adanya perubahan kebijakan pemerintah, perubahan tren teknologi atau mungkin dari faktor pelanggan. Dengan kesadaran ini maka diharapkan perusahaan bersifat proaktif dalam perencanaan pengendalian resiko 2. Menentukan prioritas; yaitu menetapkan resiko mana yang memiliki prioritas paling tinggi melalui identifikasi bahaya yang ditimbulkan. Langkah ini adalah upaya untuk mengaudit dan mengukur resiko 3. Mencegah terjadinya resiko; langkah ini bisa dilakukan melalui 1. meminimalkan resiko di tiap aspek organisasi (produksi, pemasaran, keuangan, dll) 2. memindahkan resiko (seperti membeli asuransi untuk melindungi aset) 3. menyebarkan resiko (misal dengan portofolio, diversifikasi, membangun subsidiary, dll)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar